Sterilisasi Hewan Peliharaan, Why It Is Important

A decision every owner has to take

Hi Everyone,

I had a conversation with a group of friends, banyak yang mengeluh karena kucing liar yang berkeliaran dilingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Gw sendiri melihat there are so many strays didaerah tempat gw bekerja, untungnya ada beberapa kind souls yang setiap hari berkeliling dengan mobil untuk menaruh some food and water in plastic so the cats can have a decent meal (bless them) daripada resorting to animal violence to get rid of the strays. Bukan hanya kucing, coba lihat instagram Garda Satwa Indonesia atau Jaan Indonesia anjing pun memiliki masalah yang sama. Belum lagi anjing lebih tidak beruntung karena stigma yang diberikan oleh masyarakat. As a stray, kehidupan hewan berkaki empat ini tidak gampang, biasanya mereka kurus (malnourished) dan tidak jarang penuh luka-luka karena kekejaman manusia. Kadang mereka hanya perlu makan dan tempat bernaung, what they’re doing basically is to survive sehingga prilakunya menganggu manusia. Akhirnya banyak yang menerima kekerasan dari manusia, walaupun bagi gw tidak ada justifikasi untuk berprilaku kejam terhadap binatang APAPUN ALASANNYA!

Gw sendiri, I have Emeng alias Mameng. Honestly, I don’t like cat tetapi setiap hari melihat dia berkeliaran disekitar apartemen dan kadang basah kuyup kehujanan, hati ini rasanya tidak tega. My husband and I finally decided to take him home. He’s now 1 year and 6 months, playful, jutek, and sometimes annoying just look at how many cups he’s smashed over the last few months *facepalm*. Seperti kebanyakan dari cat parent, kami dihadapkan dengan pertanyaan sulit to neuter or not to neuter alias steril atau tidak.

Topik ini memang menjadi kontroversi di berbagai kalangan baik pemilik maupun pencinta hewan. Argumen yang setuju biasanya mengemukakan beberapa nilai positif yaitu mencegah berbagai penyakit reproduksi, memperbaiki kebiasaan buruk, dan yang paling utama adalah population control. Sedangkan on the opposite side of the argument ada yang mengatakan hilangnya hak-hak binatang untuk bereproduksi, populasi kucing menurun dan punah, meningkatkan populasi tikus, dan berbagai alasan lain termasuk keagamaan. Honestly, I was conflicted to say the least mendengar kedua argumen ini tetapi akhirnya memutuskan untuk mengastrasi Mameng. Kenapa?

Cukup sederhana it’s for the welfare of Mameng, yakin? Apa bukan karena keegoisan gw sebagai pemilik? Nope, gw yakin dengan sterilisasi kucing gw semakin sejahtera, bahagia lahir & batin (well I hope so). Kenapa gw bilang welfare, karena gw melihatnya secara holistik bukan hanya keuntungan dari segi kesehatan.

Health Issue & Population Control vs. The Argument

Membicarakan masalah kesehatan mungkin banyak yang belum mengerti apa sih sterilisasi pada hewan. Gw juga dulu membayangkan the horrible thing of cutting the animal’s genital! Memang pada jantan dilakukan operasi dengan mengangkat testis tetapi dilakukan dalam keadaan tidak sadar dan pada betina dilakukan dengan cara mengangkat indung telur dan rahim. Proses pada jantan (Mameng) lumayan cepat, pagi gw antar ke dokter hewan dan siang gw jemput. Mameng waktu itu masih dalam pengaruh obat bius namun in no time, kira-kira malamnya sudah lincah lagi layaknya nothing has happened.

Banyak banget sumber yang menjelaskan keuntungan medis misalnya menghilangkan resiko kanker rahim dan ovarium, menghilangkan penyakit kanker testis, mengurangi resiko radang kelenjar prostat dan kanker prostat, menghilangkan penyakit Pyometra (nanah dalam rahim, menurut dokter hewan gw biasanya anjing betina yang mengalami). Pada dasarnya hewan yang sudah disteril memiliki kemungkinan kecil terkena penyakit menular yang mematikan seperti leukimia dan AIDS pada kucing. Selain itu juga untuk mengontrol tingkat populasi hewan domestik seperti anjing dan kucing.

Argumen yang sering gw dengar adalah, 1) wah kasian ya kucingnya nanti tidak bisa kawin atau hak asasi hewannya diambil. 2) Buat apa di steril? tunggu deh sampai punya anak dulu , 3) Sebagai manusia, kita harus menjaga hewan dan mau berbagi misalnya memberikan makanan, manusianya yang dididik harus bisa berbagi dengan hewan, 4) wah kalau begitu populasi tikus akan naik karena jumlah predator alaminya menurun.

I’m not gonna sugarcoat it but basically few arguments above are bullcrap. The pressing issue adalah mengontrol populasi hewan-hewan ini. Let’s do the math seekor kucing bisa beranak 2-3x setahun dengan jumlah anak antara 1-8 ekor, kalo kita hitung dengan 1/2 dari jumlah maksimum misalnya 2x setahun x 4 ekor kitten, jumlahnya 8 kittens. Sedangkan seekor anjing bisa beranak 1x setahun dengan jumlah antara 5-6 ekor, gw ambil jumlah tengah rata-rata 3 puppies dalam setahun. Dari jumlah ini coba multiplied by 100, jadi setiap tahun ada tambahan 400 ekor kucing dan 300 ekor anjing! Siapa yang mampu memberikan hidup yang layak untuk hewan sebanyak ini? Hidup layak adalah kata kuncinya, jadi bukan makan asal-asalnya, sakit dibiarkan, tidak pernah mandi, tidak divaksin, dsb…dsb. Memelihara hewan dengan baik perlu usaha, waktu, uang, dan perhatian dan kasih sayang layaknya manusia. Di Indonesia bukan hanya tidak ada data memadai tetapi setahu gw belum ada tempat penampungan sementara bagi hewan-hewan liar atau stray. Dan tahukah kamu, di US diperkirakan 2.7 juta hewan (1.2 juta anjing dan 1.4 juta kucing) tiap tahunnya harus disuntik mati atau euthanasia karena tidak ada yang mau memelihara mereka. Bukan tidak mau, tetapi populasi hewan-hewan ini membengkak lebih cepat daripada jumlah yang bisa dipelihara oleh manusia. Berapa banyak sih jumlah maksimal yang bisa dipelihara dalam 1 rumah tangga 1,3,5,10? Sebagai informasi saja, teman gw ada yang memelihara kurang lebih dari 40 ekor kucing dan 3 ekor anjing tetapi masih saja banyak yang berkeliaran sebagai stray. Lagipula hanya orang-orang tertentu yang sanggup memberikan rumah yang layak untuk hewan dengan jumlah lebih dari 1 apalagi sebanyak itu. Masalah mendidik manusia untuk lebih compassionate dengan hewan itu penting namun seperti yang gw utarakan diatas hewan-hewan tersebut bukan hanya membutuhkan makanan tetapi berbagai hal untuk bisa hidup lebih layak seperti manusia.

Pesan gw bagi yang memelihara anjing atau kucing sebaiknya segera mensteril mereka. Hewan-hewan ini bukanlah manusia yang melakukan hubungan intim sebagai rekreasi namun hanya sebagai prokreasi, jadi mereka tidak akan merasa kurangnya sesuatu apapun apabila tidak melakukannya. Justru yang kasihan apabila hewan peliharaan kamu sedang birahi dan menjadi resah karena tidak mempunyai “partner” dan banyak kejadian kehilangan hewan peliharaan karena si hewan akhirnya berkeliaran mencari “partner” saat musim kawin. Satu hal yang menganggu adalah kemungkinan hewan menjadi gemuk karena tidak lagi agresif. Sebagai owner yang baik kamu harus bisa mengajak bermain dan mengatur asupan makanan hewan peliharaan kamu agar hal ini tidak terjadi. Hal ini pun gw rasa berbeda disetiap hewan, I can assure you Emeng tidak overweight dan selincah bola bekel malah terlihat lebih bahagia karena sudah cuek saat musim kawin tiba. Satu lagi, jangan tunggu sampai hewan peliharaan kamu terlanjur punya anak. Banyak kasus begitu anaknya lahir dan berjumlah banyak akhirnya bingung mau dibawa kemana the new puppy (ies) dan kitten (s). Sering kali kejadiannya diberikan ke owner baru, sukur-sukur orang tersebut mampu bertanggung jawab. Banyak sekali kasus abandonment anjing atau kucing begitu hewan ini mulai dewasa, tidak lucu lagi atau dianggap tidak behave. Atau yang lebih mengenaskan berakhir di kotak kardus dan dibuang ditong sampah untuk mengadu nasib ditengah keras dan kejamnya jalanan di Jakarta.

I’m leaving few articles mengenai manfaat sterilisasi pada hewan peliharaan sebagai referensi bagi mereka yang masih berpikir-pikir sekaligus kontak klinik yang melakukan operasi ini terhadap Emeng. Emeng’s said, he’s off for a quick nap and I hope you consider wisely so no more of his brothers and sisters become stray on the streets of Jakarta. XOXO